Senin, 08 Juni 2015




BAB I
PENDAHULUAN

Latarbelakang    :
   Pengujian mutu benih, yang meliputi pengujian mutu fisik, genetis dan fisiologis, merupakan metode untuk menentukan nilai pertanaman di lapangan. Didalam setiap pengujian, standar tolak ukur untuk mutu kualitas benih memiliki berbeda-beda. Karena itu, komponen-komponen mutu benih yang menunjukkan korelasi dengan nilai pertanaman benih di lapangan harus di evaluasi pengujian.
            Pengujian benih dapat dilakukan mengikuti aturan ISTA (International Seed Testing Association) atau OASA (Assocation Official Seed Analysts) deng an beberapa penyesuaian. Penyesuaian tersebut antara lain penyederhanakan prosedur pengujian benih, yang salah satunya adalah pengujian mutu fisiologis benih. Pengujian mutu fisiologis benih dapat dilakukan melalui uji viabilitas dan vigor benih. Uji viabilitas benih meliputi pengukuran daya kecambah dan kadar air benih. Sedang uji vigor benih meliputi uji pengusangan dipercepat dan uji daya hantar listrik. Pengujian-pengujian ini dilakukan dengan menggunakan sampel benih yang mewakili lot (kumpulan) benih.
            Berdasarkan substratnya, metode uji perkecambahan benih dengan subsrat kertas, pasir, dan tanah. Kondisi lingkungan perkecambahan pada kedua metode uji ini dalam keadaan optimum.
            Kadar air benih merupakan salah satu komponen yang harus diketahui baik untuk tujuan pengolahan maupun penyimpanan benih. Telah diketahui bahwa kadar air memiliki dampak besar terhadap benih selama penyimpanan. Menyimpan benih orthodoks berkadar air tinggi beresiko cepat mundurnya benih selama dalam penyimpanan. Kadar air benih merupakan salah satu komponen yang dinilai oleh BPSB (Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih) dalam sertifikasi benih sehingga uji ini merupakan satu pengujian rutin para analisis benih di laboratorium beni
1.2. TUJUAN
Ø  Mahasiswa supaya mampu melaksanakan terhadap pengujian vigor benih pada tanaman kedelai yang meliputi kemampuan benih untuk berkecambah dan kecepatan berkecambah
Ø  Mahasiswa supaya mampu melaksanakan pengujian vigor benih dengan batu bata
Ø  Mahasiswa mampu menghitung dan mengidentifikasi kemampuan tumbuh benih






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Secara ideal semua benih harus memiliki kekuatan tumbuh yang tinggi, sehingga bila ditanam pada kondisi lapangan yang beraneka ragam akan tetap tumbuh sehat dan kuat serta berproduksi tinggi dengan kualitas baik. Vigor benih di cerminkan oleh dua informasi tentang viabilitas, masing-masing ‘kekuatan tumbuh’ dan ‘daya simpan’ benih. Kedua nilai fisioogi ini menempatkan benih pada kemungkinan kemampuannya untuk tumbuh menjadi tanaman normal meskipun keadaan biofisik lapangan produksi sub optimum atau sesudah benih melampui suatu periode simpan yang lama (Mugnisjah 2008).
Viabilitas adalah kemampuan benih atau daya hidup benih untuk tumbuh secara normal pada kondisi optimum. Berdasarkan pada kondisi lingkungan pengujian viabilitas benih dapat dikelompokkan ke dalam viabilitas benih dalam kondisi lingkungan sesuai (favourable) dan viabilitas benih dalam kondisi lingkungan tidak sesuai (unfavourable). Pengujian viabilitas benih dalam kondisi lingkungan tidak sesuai termasuk kedalam pengujian vigor benih. Perlakuan dengan kondisi lingkungan sesuai sebelum benih dikecambahkan tergolong untukmenduga parameter vigor daya simpan benih, sedangkan jika kondisi lingkungan tidak sesuai diberikan selama pengecambahan benih maka tergolong dalam pengujian untuk menduga parameter viabilitas tumbuh benih (Soetopo 2005).
Vigor benih adalah kemampuan tumbuh benih menjadi tanaman berproduksi normal dalam kondisi sub optimum. Beberapa  kondisi sub optimum dilapang misalnya : kondisi kekeringan, tanah salin, tanah asam, tanah penyakit, dsb. Benih yang mampu mengatasi kondisi tersebut termasuk lot benih bervigor tinggi ( Amira 2011).
Vigor benih adalah kemampuan benih menumbuhkan tanaman normal pada kondisi suboptimum di lapang sesudah disimpan dalam kondisi simpan yang suboptimum dan ditanam dalam kondisi lapang yang optimum. Tanaman dengan tingkat vigor yang tinggi mungkin dapat dilihat dari fenotipe kecambah atau bibitnya, yang selanjutnya mungkin dapat berfungsi sebagai landasan pokok untuk ketahananya terhadap berbagai kondisi  yang menimpanya (Bewley and Black 2005).
Secara umum vigor diartikan sebagai kemampuan benih untuktumbuh normal pada keadaan lingkungan yang sub optimal. Vigor dipisahkan antara vigor genetik dan vigor fisiologi. Vigor genetik adalah vigor benih dari galur genetik yang berbeda-beda, sedang vigor fisiologi adalah vigor yang dapat dibedakan dalam galur genetik yangsama. Vigor fisiologi dapat dilihat antara lain dari indikasi tumbuh akar dari plumula atau koleptilnya, ketahanan terhadap serangan penyakit dan warna kotiledon dalam efeknya terhadap Tetrazolium Test. Informasi tentang daya kecambah benih yang ditentukan di laboratorium adalah pada kondisi yang optimum. Padahal kondisi lapang yang sebenarnya jarang didapati berada pada keadaan yang optimum. Keadaan sub optimum yang tidak menguntungkan di lapangan dapatmenambah segi kelemahan benih dan mengakibatkan turunnya persentase perkecambahan serta lemahnya pertumbuhan selanjutnya. Secara ideal semua benih harus memiliki kekuatan tumbuh yang tinggi, sehingga bila ditanam pada kondisi lapangan yang beraneka ragamakan tetap tumbuh sehat dan kuat serta berproduksi tinggi dengan kualitas baik (Bagod 2006).
Vigor benih dicerminkan oleh dua informasi tentang viabilitas, masing – masing “kekuatan tumbuh” dan daya simpan” benih. Tanaman dengan tingkat vigor yang tinggi mungkin dapat dilihat dari performansi fenotipis kecambah atau bibitnya, yang selanjutnya mungkin dapat berfungsi sebagai landasan pokok untuk ketahannya terhadap berbagai unsur musibah yang menimpa. Vigor benih untuk kekuatan tumbuh dalam suasana kering dapat merupakan landasan bagi kemampuannya tanaman tersebut untuk tumbuh bersaing dengan tumbuhan pengganggu ataupun tanaman lainnya dalam pola tanam multipa. Vigor benih secara spontan merupakan landasan bagi kemampuan tanaman mengabsorpsi sarana produksi secara maksimal sebelum panen (Sutopo 2011).
Benih dengan viabilitas tinggi akan menghasilkan bibit yang kuat dengan perkembangan akar yang cepat sehingga menghasilkan pertanaman yang sehat dan mantap. Vigor adalah sekumpulan sifat yang dimiliki benih yang menentukan tingkat potensi aktivitas dan kinerja atau lot benih selama perkecambahan dan munculnya kecambah. Vigor adalah suatu indikator yang menunjukan bagaimana benih tumbuh pada kondisi lapang yang bervariasi. Vigor adalah gabungan antara umur benih, ketahanan, kekuatan dan kesehatan benih yang diukur melalui kondisi fisiologinya, yaitu pengujian stress atau memalui analisis biokimia (ISTA 2007)











BAB III
METODOLOGI

3.1 . WAKTU DAN TEMPAT
   Pratukum ini dilaksanakan di lab teknologi benih upn “ veteran “ jawa timur pada tanggal 16 mei 2015 adapun penempatan benih untuk uji vigor yaitu di gren hause upn veteran di belakng fakultas pertanian pada jam 13.00 wib – selesai.
3.2 . BAHAN DAN ALAT
Pratikum uji vigor ini memakai bak perkecambahan  4  buah , pasir , batu bata , cetok , kedelai varietas wilis dan anjsmoro
3.3 . Langka kerja
Ø  Menyiapkan bak perkecambahan dan media tanam (pasir, kerikil batu bata)
Ø  Tanam 50 butir benih kedelai pada masing-masing media tanam yang berbeda dengan  3 ulangan
Ø  Beri label pada masing media tanam yang telah ditanami benih
Ø   Menyiram media tanam seperlunya
3.4.Pengamatan
Mengamati dan menghitung kecepan  berkecambah benih dengan Rumus untuk menghitung vigor :
Ø  Koefisien vigor
Ø  Indeks Vigor
Ø  Prosentase Vigor
Ø  Laju Vigor
Ø  Nilai Vigor Puncak
Ø  Rata-rata Vigor Harian
Ø  Nilai Vigor







BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.Hasil data pengamatan  uji vigor varietas anjasmoro
No
Media
Pasir
Varietas
Anjasmoro
Pengamatanharike ….
Keterangan
jumlah

1
2
3
4
5
6
7

1

0
0
0
15
12
2
6
38

2

0
0
0
16
15
3
4
40

3

0
0
0
23
15
5
2
41












Barubata










1

0
0
0
28
11
0
2
37

2

0
0
0
27
8
0
6
41

3

0
0
0
30
7
1
3
45












4.2. Hasil data pengamatan uji vigor varietas wilis

No
Media
Pasir
Varietas
Wilis
Pengamatanharike ….
Keterangan
Jumlah

1
2
3
4
5
6
7

1

0
0
17
8
4
3
3
35

2

0
0
20
10
11
2
3
46

3

0
0
19
6
16
1
1
43












Barubata










1

0
0
19
9
4
1
0
72

2

0
0
13
7
17
2
1
40

3

0
0
19
10
2
0
0
41

































4.3. data uji vigor varietas anjasmoro
No
Media
Pasir
Varietas
Anjasmoro








CV
IV
DV
LV
NP
MDC
NV

1

19.19
7.84
76%
5.05
5.4
5.43
29.32

2

43.01
8.6
80%
4.83
6.6
5.7
37.62

3

21.92
9,2
82%
4.56
7.6
5.83
44.54











Batubata









1

22.98
8.6
79%
4.35
7
5.29
37.03

2

21.58
9.2
82%
4.63
7
5.86
41.02

3

22.28
10.3
90%
4.49
8.2
6.43
52.73























4.4. data uji vigor varietas wilis

No
Media
Pasir
Varietas
wilis








CV
IV
DV
LV
NP
MDC
NV

1

24.6
9.39
70%
4.05
6.25
5
31.25

2

24.4
12.12
92%
4.08
7,5
6.5
48.75

3

24.7
11.34
86%
4.04
6.25
6.14
38.37











Batubata









1

27.73
9.55
66%
6.03
7.25
4.71
34.15

2

26.5
11.29
80%
3.77
7.25
5.71
41.40

3

28.97
9.23
62%
3.45
7.25
4.43
34.2






































4.5  Pembahasan
Pratukum ini dilaksanakan di lab teknologi benih upn “ veteran “ jawa timur pada tanggal 16 mei 2015 adapun penempatan benih untuk uji vigor yaitu di gren hause upn veteran di belakng fakultas pertanian pada jam 13.00 wib – selesai dan pengamatan selama 1 minggu.
Hasil dari pengamatan verietas asjasmoro mulai tumbuh kecambah pada 3 hari setelah tanam di bak persemaian baik yang mengunakan pecan batu bata maupun yang mengunakan media pasir sedangkan pada varietas wilis mulai kecambah pada 2 hari setelah tanam baik mengunakan media pasir dan media pecan batu bata dari 2 data tersebut menunjukkan kemampuan kecambah lebih cepat untuk varietas wilis dari pada varietas anjasmoro
Untuk  benih yang hidup untuk varietas anjasmoro yang memakai media pasir untuk ulangan 1 = 38 benih , ulangan 2 = 40 benih , ulangan 3 = 41 benih sedangkan untuk yang memakai pecan batu bata  benih yang tumbuh untuk ulangan 1 = 37 , ulangan 2 = 41 , ulangan 3= 45  kalau di buat prosentase benih tumbuh maka untuk yang mengunakan media pasir ulanagn 1= 76 % , ulangan 2= 80 % dan ulangan 3 = 82 % sedangkan pada media yang mengunakan pecan batu bata bilah di prosentasekan benih yang tumbuh adalah untuk ulangan 1 = 79 % , ulangan 2 = 82% dan ulangan 3 = 90 %
Apa bilah di rata – rata prosentase benih yang tumbuh dari media pasir adalah 79,3 % sedangkan pada media pecan batu bata bilah di rata – rata prosentase benih tumbuh adalah 83,7 % .
untuk warietas wilis prosentase benih yang tumbuh mengunakan media pasir adalah . untuk ulangan 1 = 70% , ulangan 2 = 92 % dan ulangan 3 = 86 % sedangkan untuk yang memakai media pecaan batu bata untuk ulangan 1 = 66% , ulangan 2 = 80% dan ulangan 3 = 62 % .
Bilah di rata – rata untuk varietas wilis yang mengunakan media pasir prosentase benih  tumbuh adalah 82.6 % sedangkan untuk media pecaan batu bata 69.3 %
Untuk media pasir prosentase benih tumbuh yang lebih baik adalah varietas wilis dengan prosentase 82.6 % dari pada varietas anjasmoro dengan prosentase rata rata 79.3 %
Untuk media pecaan batu bata prosentase benih tumbuh yang lebih baik adalah varietas anjasmoro dengan prosentase rata-rata 83.7 % sedangkan wilis hanya 69.3 %
Sedangkan pada uji vigor mendapatkan data untuk varietas anjasmoroyang mengunakan media pasir  untuk ulangan 1= 7.84 ulangan 2 = 8.6 , ulangan 3 = 9.2  sedangkanuntuk media pecaan batu bata untuk index vigor ulangan 1 = 8.6 ulangan 2 =9.2 ulangan 3 = 10.3
Untuk varietas wilis index vigoryang mengunakan pecaan batu bata untuk ulangan 1 = 9.55 , ulangan 2 = 11.29 , ulangan 3 = 9.23 sedangkan untuk media pasir index vigor ulangan 1= 9.39 , ulangan 2 = 12.12 , ulangan 3 = 11.34
Apabila di rata – rata index vigor untuk varietas anjasmoro yang mengunakan pasir 8.5  sedangkan yang mengunakan media pecaan batu bata 9.37 . untuk varietas wilis bila di ratarata index vigor yang mengunakan media pasir adalah  10.95 untuk media pecaan batu bata 10.02




















BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
       Hasil dari uji vigor mengunakan media pasir dan pecahan batu bata denga mengunakan benih verietas wilis dan anjasmoro  dapat di simpulkan sebai berikut
Ø  Untuk media pasir prosentase benih tumbuh yang lebih baik adalah varietas wilis dengan prosentase 82.6 % dari pada varietas anjasmoro dengan prosentase rata rata 79.3 %
Ø  Untuk media pecaan batu bata prosentase benih tumbuh yang lebih baik adalah varietas anjasmoro dengan prosentase rata-rata 83.7 % sedangkan wilis hanya 69.3 %
Ø  index vigor untuk varietas anjasmoro yang mengunakan pasir 8.5  sedangkan yang mengunakan media pecaan batu bata 9.37 .
Ø  untuk varietas wilis bila di ratarata index vigor yang mengunakan media pasir adalah  10.95 untuk media pecaan batu bata 10.02
Ø  kemampuan kekuatan tumbuh setiap varietas berbada – beda

















DAFTAR PUSTAKA
Ø  Aryunis , ir , dkk 2009. Penuntun Pratikum Teknologi Benih . Fakultas
Ø  Kamil , jurnalis . 1979 . Dasar Teknologi Benih . Angkasa Raya , Padang .
Ø  Nasrudin. 2009. Kecambah normal dan abnormal.
Ø  Anonim, 2010. Analisis Kemurnian Benih. http://www.leonheart45.blogspot.com.
Ø  Sutopo, lita. 2010. Teknologi Benih ( Edisi revisi). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.